Pertahankan Tradisi Melayu Pontianak, LPYM Adakan Lomba Saprahan

PONTIANAK-Milad Lembaga Pendidikan Yayasan Mujahidin (LPYM) ke 46 juga dirangkaikan dengan pelaksanaan lomba saprahan. Pesertanya diikuti sembilan kelompok perwakilan dari tingkat TK, SD, SMP, MTS, SMA dan Aliyah Mujahidin. Terdapat nilai kebudayaan yang kuat dalam lomba ini. Mempertahankan sekaligus mengenalkan tradisi melayu kepada siswa di lingkup Lembaga Pendidikan Mujahidin agar tak hilang di telan zaman.

Baju kurung dan telok belanga yang dikenakan oleh peserta lomba saprahan di lingkungan Lembaga Pendidikan Yayasan Mujahidin dengan momentum HUT ke 46, merupakan upaya pihak lembaga untuk mempertahankan tradisi budaya melayu kepada siswa di lingkup LPYM.

Dalam lomba saprahan itu, mereka mengenakan pakaian adat melayu Kota Pontianak. Bercorak insang. Warna warni pula. Dihadapan para juri, satu persatu kelompok menampilkan tata cara budaya saprahan. Yaitu budaya makan bersama dengan masakan khas melayu Kota Pontianak. Tak lupa air serbat berwarna merah telah tertata rapi di gelas-gelas yang telah disediakan setiap kelompok.

Salah satu dewan juri perwakilan LPYM, Suhrawadi menjelaskan lomba saprahan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari milad LPYM ke 46. Terdapat sembilan kelompok ikut serta. Mereka terdiri dari perwakilan TK, SD, SMP, MTS, SMA dan Aliyah. “Untuk kelompok perwakilan TK dan SD, pesertanya diwakili oleh guru. Sedangkan SMP, MTS, Aliyah dan SMA pesertanya para murid Mujahidin,” ujarnya Rabu 29 Januari 2026.

Tim SMA Mujahidin kata dia menurunkan dua regu. Secara keseluruhan penampilan perkelompok ini bagus. Tata cara saprahan mereka pahami. Mulai dari cara berjalan membawa lauk pauk, kemudian menata makanan dan minuman di lokasi saprahan. Semuanya dipahami para peserta.

Dengan memahami tata cara saprahan, diharap para siswa dapat menjadi aktor utama dalam mempertahankan tradisi budaya melayu Pontianak. Salah satunya saprahan ini.

Menurutnya, generasi muda menjadi penerus tonggak estafet dalam penjaga tradisi kebudayaan. Dengan edukasi berbagai kegiatan kebudayaan, mereka akan paham apa saja kebudayaan melayu di Pontianak ini.

Selain momentum milad, dalam upaya menjaga tradisi kebudayaan di Pontianak juga dilakukan berkelanjutan. Seperti momen HUT Kota Pontianak setiap bulan Oktober. “Seperti murid menggunakan pakaian adat telok belanga dan baju kurung. Itu kami lakukan mulai dari murid TK hingga ke jenjang SMA sederajat,” katanya.

Di acara puncak Milad LPYM ke 46 akan dilakukan jalan sehat. Di sana juga akan diberikan Tabungan kepada murid berprestasi yang telah membanggakan Mujahidin. Baik prestasi akademik dan non akademik.(**)